Section 6
SCM (Supply Chain Management )
Apa itu Supply Chain Management (SCM)??
Supply Chain Management (SCM) merupakan proses yang
melingkupi suatu produk mulai dari pembuatan hingga pendistribusian kepada
konsumen.
Dalam pengertian
lain, SCM mengacu kepada hubungan yang mempertahankan organisasi dengan rekan
bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi dan mendistribusikannya kepada
konsumen dalam suatu jaringan yang kompleks.
Perkembangan
SCM sejak tahun 1970 sampai saat ini
Perkembangan
yang terjadi sejak tahun 1970 sampai saat ini,diantaranya:
1.
Era Penciptaan
Manajemen rantai pasokan Istilah ini pertama kali
dicetuskan oleh seorang konsultan industri AS pada awal tahun 1980. Namun,
konsep rantai pasokan dalam manajemen adalah sangat penting jauh sebelum, di
awal abad 20, terutama dengan penciptaan jalur perakitan. Ciri-ciri dari era
manajemen rantai pasokan termasuk kebutuhan untuk perubahan skala besar,
rekayasa ulang, perampingan didorong oleh program-program pengurangan biaya,
dan perhatian luas terhadap praktek manajemen Jepang.
2.
Integrasi Era
Era studi manajemen rantai pasokan yang disorot dengan
pengembangan Electronic Data Interchange (EDI) sistem pada tahun 1960 dan
dikembangkan melalui 1990-an oleh pengenalan Enterprise Resource Planning (ERP)
sistem. Era ini terus berkembang menjadi abad ke-21 dengan ekspansi sistem
kolaboratif berbasis internet. Era evolusi rantai suplai dicirikan oleh
meningkatkan nilai tambah dan pengurangan biaya melalui integrasi.
Bahkan rantai pasokan dapat diklasifikasikan sebagai
jaringan Tahap 1, 2 atau 3. Pada tahap 1 rantai pasokan jenis, berbagai sistem
seperti Buat, Penyimpanan, Distribusi, Bahan kontrol, dll adalah tidak terkait
dan tidak bergantung satu sama lain. Dalam rantai pasokan 2 tahap, ini adalah
terpadu di bawah satu rencana dan ERP diaktifkan. Sebuah panggung 3 rantai
pasokan adalah satu di mana integrasi vertikal dengan pemasok di arah hulu dan
pelanggan di arah hilir tercapai. Contoh semacam ini supply chain adalah Tesco.
3.
Era Globalisasi
Gerakan ketiga pengembangan manajemen rantai suplai, era
globalisasi, dapat dicirikan oleh perhatian yang diberikan kepada sistem global
hubungan pemasok dan perluasan rantai pasokan lebih dari batas-batas nasional
dan ke benua lain. Meskipun penggunaan sumber-sumber global dalam rantai
pasokan organisasi dapat ditelusuri kembali beberapa dekade (misalnya, dalam
industri minyak), tidak sampai akhir 1980-an itu, sejumlah organisasi mulai
untuk mengintegrasikan sumber global ke dalam bisnis inti mereka. Era ini
ditandai oleh globalisasi manajemen rantai pasokan dalam organisasi dengan
tujuan meningkatkan keunggulan kompetitif mereka, nilai tambah, dan mengurangi
biaya melalui sumber global.
4.
Spesialisasi
Era-Fase Satu: manufaktur outsourcing dan distribusi
Pada 1990-an, industri mulai berfokus pada “kompetensi
inti” dan mengadopsi model spesialisasi. Transisi ini juga kembali fokus
perspektif fundamental dari masing-masing organisasi masing-masing.Model
spesialisasi menciptakan jaringan produksi dan distribusi terdiri dari
beberapa, rantai pasokan individu spesifik untuk produk, pemasok, dan pelanggan
yang bekerja sama untuk mendesain, memproduksi, mendistribusikan, pasar,
menjual, dan pelayanan produk. Himpunan mitra dapat berubah menurut suatu
wilayah, pasar tertentu, atau saluran, mengakibatkan proliferasi lingkungan
mitra dagang, masing-masing dengan karakteristik sendiri yang unik dan
tuntutan.
5.
Spesialisasi Era-Fase Dua: manajemen rantai
suplai sebagai layanan
Spesialisasi dalam rantai pasokan dimulai pada tahun
1980-an dengan dimulainya brokerages transportasi, manajemen gudang, dan operator
non-berbasis aset dan telah jatuh tempo di luar transportasi dan logistik ke
pasokan aspek perencanaan, kolaborasi, pelaksanaan dan manajemen kinerja.
Spesialisasi rantai suplai memungkinkan perusahaan untuk
meningkatkan kompetensi secara keseluruhan dengan cara yang sama bahwa
outsourcing manufaktur dan distribusi telah dilakukan, yang memungkinkan mereka
untuk fokus pada kompetensi inti dan merakit jaringan tertentu, mitra terbaik
di kelas untuk berkontribusi pada nilai keseluruhan rantai sendiri, sehingga
meningkatkan kinerja dan efisiensi.Outsource teknologi hosting untuk solusi
rantai pasokan debutnya di akhir 1990-an dan telah mengambil akar terutama di
kategori transportasi dan kolaborasi. Ini telah berkembang dari model Aplikasi
Layanan Provider (ASP) dari sekitar 1998 sampai 2003 untuk model On-Demand dari
sekitar 2003-2006 ke Software sebagai model (SaaS) Service saat ini dalam fokus
hari ini.
6.
Manajemen Rantai Pasokan 2.0 (SCM 2.0)
Membangun globalisasi dan spesialisasi, para SCM istilah
2.0 telah diciptakan untuk menggambarkan baik perubahan dalam rantai suplai itu
sendiri serta evolusi, metode proses dan alat-alat yang mengelolanya dalam
“era” baru.
Web 2.0 didefinisikan sebagai kecenderungan dalam
penggunaan World Wide Web yang dimaksudkan untuk meningkatkan kreativitas,
berbagi informasi, dan kolaborasi antara pengguna. Pada intinya, atribut umum
bahwa Web 2.0 membawa adalah untuk membantu menavigasi sejumlah besar informasi
yang tersedia di web untuk menemukan apa yang dicari. Ini adalah gagasan dari
sebuah jalur dapat digunakan. SCM 2.0 berikut ini gagasan ke dalam operasi
rantai suplai. Ini adalah jalan menuju hasil SCM, kombinasi dari, metodologi
proses, alat dan pilihan pengiriman untuk memandu perusahaan untuk hasil mereka
dengan cepat sebagai kompleksitas dan kecepatan meningkatkan rantai pasokan
karena efek dari persaingan global, fluktuasi harga yang cepat, bergelombang
harga minyak, siklus hidup produk pendek, spesialisasi diperluas, near-/far-
dan off-menopang, dan kelangkaan bakat.
Apa itu Upstream dan Downstream Supply Chain??
Downstream supply chain adalah semua aktivitas yang
melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir contohnya saja downstream
supply chain ini lebih memperhatikan pada distribusi, pergudangan, transportasi
dan after sale service.
Sedangkan, Upstream adalah aktivitas dari suatu
perusahaan manufacturing dengan para penyalurnya (yang mana dapat
manufacturers, assemblers, atau kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada para
penyalur mereka (para penyalur second-tier) . Contohnya saja upstream ini lebih
memperhatikan kepada pengadaan.
Atau
dalam kata lain Upstream adalah di
saat kegiatan pemasokan berlangsung antara perusahaan manufaktur ataupun
supplier dengan perusahaan kita dan downstream adalah kegiatan pemasokan
yang terjadi antara perusahaan kita dengan konsumen.
Apa itu Pull dan Push Supply Chain!
Pull supply chain adalah para pelanggan meminta
suatu produk dan menarik produk itu melalui jalur perngiriman. Contoh dari
perusahaan mobil Ford Australia yang hanya memproduksi bila ada pesanan dari
pelanggan.
Sedangkan Push supply chain adalah pelanggan tidak
meminta suatu produk untuk dikembangkan, produk di push ke pelanggan melalui
promosi. Contohnya adalah parfum, para pelanggan tidak mungkin meminta parfum
yang belum pernah mereka cium sebelumnya.
Bagaimana peran
teknologi informasi terhadap SCM??
Berikut ini adalah
contoh yang memperkuat penjelasan akan pperan TI dalam SCM
Chopra
& Meindl (2001) menyatakan bahwa dalam SCM terdapat empat penggerak (driver),
yaitu persediaan, transportasi, fasilitas, dan informasi. Dari keempat
penggerak tersebut, informasi merupakan penggerak utama. Informasi sangat
mempengaruhi ketiga penggerak lainnya.
Peranan informasi dalam SCM dipengaruhi oleh teknologi
informasi yang digunakan. Teknologi informasi ini mempunyai peranan penting
dalam dalam mendukung kinerja SCM.
Peranan Teknologi
Informasi pada masing-masing proses bisnis
dalam SCM tersebut
adalah sebagai berikut:
§ Peranan dalam Manajemen
Hubungan Pelanggan
Dalam
SCM, proses manajemen hubungan pelanggan (customer relationship management/
CRM) bertujuan untuk menyediakan struktur dalam mengembangkan dan memelihara
hubungan dengan pelanggan. Berbagai teknologi informasi digunakan dalam
implementasi CRM.
Sebagai contoh,
aplikasi Sales Force Automation (SFA) dapat digunakan untuk
mengotomatiskan hubungan antara para penjual dan pembeli melalui penyediaan
informasi produk dan harga (Copra & Meindl, 2001). Sistem tersebut juga
memungkinkan informasi pelanggan dan produk secara rinci dan real time.
§ Peranan dalam Manajemen
Pelayanan Pelanggan
Untuk
dapat menjalankan manajemen pelayanan pelanggan (customer service management/CSM)
secara baik, teknologi informasi yang digunakan harus handal. Teknologi
informasi ini harus dapat menghimpun secara real time mengenai
berbagai informasi yang diperlukan pelanggan, seperti ketersediaan produk,
waktu pengiriman, dan status pesanan.
Pelayanan pelanggan
menyediakan sumber tunggal untuk berbagai informasi yang dibutuhkan pelanggan.
Dengan teknologi informasi, perusahaan dapat memberikan pelayanan kepada
pelanggan dengan tingkat kepastian yang tinggi.
§ Peranan dalam Manajemen
Permintaan
Manajemen
permintaan (demand management) mencakup proses-proses yang bertujuan
untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pelanggan dengan kemampuan pasokan
perusahaan. Sistem manajemen permintaan yang baik menggunakan
data point-of-sale dari pelanggan utama untuk
mengurangi ketidakpastian (uncertainty) dan menyediakan
aliran yang efisien sepanjang rantai pasok.
Dalam SCM, manajemen
permintaan menjadi permasalahan penting karena mencakup pengelolaan permintaan
pada suatu rangkaian perusahaan dalam rantai pasok itu. Teknologi informasi
dibutuhkan untuk menjamin keakuratan data dan mengurangi delay
time aliran informasi. Kedua hal tersebut merupakan faktor-faktor
penting untuk mengurangi fenomena bullwhip effect dalam rantai
pasok.
§ Peranan dalam Pemenuhan
Pesanan
Pemenuhan
pesanan yang efektif membutuhkan integrasi dari proses manufaktur, logistik dan
rencana pemasaran. Kunci SCM yang efektif adalah memenuhi kebutuhan
pelanggan sesuai dengan waktu. Sebagai bagian dalam sistem ERP (Enterprise
Resources Planning), modul Order Fulfillment digunakan untuk
memantau siklus pemenuhan pesanan dan merupakan catatan kemajuan perusahaan
dalam memuaskan permintaan.
ERP merupakan suatu
sistem teknologi informasi operasional yang digunakan untuk mengumpulkan
informasi dari semua fungsi dalam perusahaan. Sistem ERP ini memantau material,
pesanan, jadwal, persediaan barang jadi, dan informasi lainnya yang ada di
perusahaan (Chopra & Meindl, 2001).Penggunaan teknologi informasi ini akan
dapat meningkatkan kepastian dalam pemenuhan pesanan.
§ Peranan dalam
Manajemen Aliran Manufaktur
Proses-proses
manufaktur harus bersifat fleksibel dalam menanggapi perubahan pasar. Perubahan
dalam proses aliran manufaktur diperlukan untuk memperpendek waktu siklus. Hal
ini berarti akan meningkatkan responsivitas terhadap pelanggan. Dalam ERP
terdapat modul manufacturing yang mencatat aliran produk sepanjang
proses manufaktur dan mengkoordinasikan apa yang, dilakukan untuk suatu bagian
pada suatu waktu. Aliran produk tersebut harus dipantau melalui penggunaan teknologi
informasi. Pemantauan ini dilakukan untuk memberikan kepastian dalam kelancaran
aliran manufaktur.
§ Peranan dalam Manajemen
Hubungan Pemasok
Manajemen
hubungan pemasok merupakan proses yang menentukan bagaimana suatu perusahaan
berinteraksi dengan para pemasoknya. Fungsi pembelian dikembangkan melalui
mekanisme komunikasi yang cepat seperti electronic data
interchange(EDI) dan jaringan internet.
Interaksi dengan
pemasok dapat mempengaruhi kelancaran proses produksi yang dilakukan perusahaan
manufaktur. Bagi pengecer, interaksi dengan pemasok sangat diperlukan untuk
menjamin ketersediaan produk yang akan dijual. Untuk menjamin interaksi ini,
diperlukan informasi yang memadai mengenai pemasok. Informasi ini mencakup
mengenai product line, lead time produk,
serta sales terms and conditions. Selanjutnya, pemantauan
kinerja pemasok perlu dilakukan, seperti yang dikembangkan pada modul Supplier
Management dalam ERP. Dalam hal ini, teknologi informasi diperlukan
untuk dapat menjamin kelancaran hubungan dengan pemasok.
§ Peranan dalam Pengembangan
danKomersialisasi Produk
SCM
mencakup integrasi pelanggan dan pemasok ke dalam proses pengembangan produk
untuk memperpendek time to market. Dengan memandang SCM sebagai
integrasi proses bisnis dari pemasok awal hingga pengguna akhir, setiap mata
rantai harus terintegrasikan pula dalam proses pengembangan dan komersialisasi
produk.
Teknologi informasi
ini digunakan oleh rantai pasok untuk mengumpulkan informasi dari mata rantai
terkait dan mengalirkannya ke mata rantai terkait lainnya. Dengan
demikian time to market produk yang dikembangkan dapat
diperpendek.
§ Peranan dalam Manajemen
Pengembalian (Return Management)
Proses
manajemen pengembalian mencakup pengaturan aliran reverse product secara
efisien dan mengidentifikasi peluang-peluang untuk mengurangi pengembalian yang
tidak dikehendaki. Dalam proses ini juga tercakup pengontrolan reusable
assets, seperti kontainer.
Manajemen
pengembalian merupakan proses di dalam SCM dengan kegiatan-kegiatan seperti pengembalian
(return),reverse logistic, gatekeeping, dan avoidance (Rogers
et. al, 2002). Lambert (1998) menyatakan bahwa dalam implementasi SCM, harus
dilakukan mekanisme koordinasi yang baik di antara fungsi-fungsi yang
bervariasi tersebut agar proses-proses di dalam SCM bisa dijalankan secara
efektif dan efisien.
Informasi
sangat penting dalam proses pengambilan keputusan pada rantai pasok. Dengan
ruang lingkup rantai pasok yang luas dan mencakup suatu rangkaian perusahaan,
kebutuhan informasi menjadi semakin penting. Salah satu kendala yang dihadapi
dalam penerapan menerapkan teknologi informasi untuk SCM adalah penyiapan
infrastruktur.
Simchi-Levi (2002)
menyebutkan bahwa infrastruktur teknologi informasi mencakup empat komponen,
yaitu: interface devices, komunikasi, database, dan arsitektur sistem.
Infrastruktur ini harus disiapkan, baik untuk internal perusahaan maupun
eksternal antar perusahaan dalam rantai pasok.
Informasi
yang akurat sangat penting untuk sebagai dasar analisis untuk pengambilan keputusan.
Masalah bentuk informasi tersebut terkait dengan standardisasi
informasi. Informasi dapat dalam berbagai bentuk atau format yang
berbeda sesuai dengan teknologi informasi yang digunakan perusahaan. Perbedaan
bentuk atau format ini dapat menjadi kendala untuk mengintegrasikan informasi.
Jika informasi ini tidak dapat terintegrasi maka penerapan SCM sangat sulit
dilakukan.
Hubungan antara Porter’s Value Chain dengan Penerapan
TI pada SCM!
Porter’s Value Chain
Ø
aktivitas primer : logistik kedalam, operasi, logistik keluar,
pemasaran dan penjualan, pelayanan
Ø
aktivitas pendukung : pembelian, pengembangan teknologi, manajemen SDM,
infrastruktur perusahaan
Hubungan antara Porter’s Value Chain dengan
penerapan TI pada SCM adalah Saling mendukung
antara keduanya, apalagi TI d jaman sekarang ini sudah berkembang pesat. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat hubungan antara Porter’s value chain ini dengan
perkembangan TI.
Referensi:
Manajemen stratejik
halaman 9
www.pdii.lipi.go.id/wp-content/.../budinugroho-scm-di-pdiilipi.pdf