Rabu, 10 April 2013

KONSEP E-BUSINESS


Section 6
SCM (Supply Chain Management )


Apa itu Supply Chain Management (SCM)??

Supply Chain Management (SCM) merupakan proses yang melingkupi suatu produk mulai dari pembuatan hingga pendistribusian kepada konsumen.
 Dalam pengertian lain, SCM mengacu kepada hubungan yang mempertahankan organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi dan mendistribusikannya kepada konsumen dalam suatu jaringan yang kompleks.

Perkembangan SCM sejak tahun 1970 sampai saat ini

Perkembangan yang terjadi sejak tahun 1970 sampai saat ini,diantaranya:
1.      Era Penciptaan
Manajemen rantai pasokan Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh seorang konsultan industri AS pada awal tahun 1980. Namun, konsep rantai pasokan dalam manajemen adalah sangat penting jauh sebelum, di awal abad 20, terutama dengan penciptaan jalur perakitan. Ciri-ciri dari era manajemen rantai pasokan termasuk kebutuhan untuk perubahan skala besar, rekayasa ulang, perampingan didorong oleh program-program pengurangan biaya, dan perhatian luas terhadap praktek manajemen Jepang.
2.      Integrasi Era
Era studi manajemen rantai pasokan yang disorot dengan pengembangan Electronic Data Interchange (EDI) sistem pada tahun 1960 dan dikembangkan melalui 1990-an oleh pengenalan Enterprise Resource Planning (ERP) sistem. Era ini terus berkembang menjadi abad ke-21 dengan ekspansi sistem kolaboratif berbasis internet. Era evolusi rantai suplai dicirikan oleh meningkatkan nilai tambah dan pengurangan biaya melalui integrasi.
Bahkan rantai pasokan dapat diklasifikasikan sebagai jaringan Tahap 1, 2 atau 3. Pada tahap 1 rantai pasokan jenis, berbagai sistem seperti Buat, Penyimpanan, Distribusi, Bahan kontrol, dll adalah tidak terkait dan tidak bergantung satu sama lain. Dalam rantai pasokan 2 tahap, ini adalah terpadu di bawah satu rencana dan ERP diaktifkan. Sebuah panggung 3 rantai pasokan adalah satu di mana integrasi vertikal dengan pemasok di arah hulu dan pelanggan di arah hilir tercapai. Contoh semacam ini supply chain adalah Tesco.
3.      Era Globalisasi
Gerakan ketiga pengembangan manajemen rantai suplai, era globalisasi, dapat dicirikan oleh perhatian yang diberikan kepada sistem global hubungan pemasok dan perluasan rantai pasokan lebih dari batas-batas nasional dan ke benua lain. Meskipun penggunaan sumber-sumber global dalam rantai pasokan organisasi dapat ditelusuri kembali beberapa dekade (misalnya, dalam industri minyak), tidak sampai akhir 1980-an itu, sejumlah organisasi mulai untuk mengintegrasikan sumber global ke dalam bisnis inti mereka. Era ini ditandai oleh globalisasi manajemen rantai pasokan dalam organisasi dengan tujuan meningkatkan keunggulan kompetitif mereka, nilai tambah, dan mengurangi biaya melalui sumber global.
4.     Spesialisasi Era-Fase Satu: manufaktur outsourcing dan distribusi
Pada 1990-an, industri mulai berfokus pada “kompetensi inti” dan mengadopsi model spesialisasi. Transisi ini juga kembali fokus perspektif fundamental dari masing-masing organisasi masing-masing.Model spesialisasi menciptakan jaringan produksi dan distribusi terdiri dari beberapa, rantai pasokan individu spesifik untuk produk, pemasok, dan pelanggan yang bekerja sama untuk mendesain, memproduksi, mendistribusikan, pasar, menjual, dan pelayanan produk. Himpunan mitra dapat berubah menurut suatu wilayah, pasar tertentu, atau saluran, mengakibatkan proliferasi lingkungan mitra dagang, masing-masing dengan karakteristik sendiri yang unik dan tuntutan.
5.      Spesialisasi Era-Fase Dua: manajemen rantai suplai sebagai layanan
Spesialisasi dalam rantai pasokan dimulai pada tahun 1980-an dengan dimulainya brokerages transportasi, manajemen gudang, dan operator non-berbasis aset dan telah jatuh tempo di luar transportasi dan logistik ke pasokan aspek perencanaan, kolaborasi, pelaksanaan dan manajemen kinerja.
Spesialisasi rantai suplai memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan kompetensi secara keseluruhan dengan cara yang sama bahwa outsourcing manufaktur dan distribusi telah dilakukan, yang memungkinkan mereka untuk fokus pada kompetensi inti dan merakit jaringan tertentu, mitra terbaik di kelas untuk berkontribusi pada nilai keseluruhan rantai sendiri, sehingga meningkatkan kinerja dan efisiensi.Outsource teknologi hosting untuk solusi rantai pasokan debutnya di akhir 1990-an dan telah mengambil akar terutama di kategori transportasi dan kolaborasi. Ini telah berkembang dari model Aplikasi Layanan Provider (ASP) dari sekitar 1998 sampai 2003 untuk model On-Demand dari sekitar 2003-2006 ke Software sebagai model (SaaS) Service saat ini dalam fokus hari ini.
6.      Manajemen Rantai Pasokan 2.0 (SCM 2.0)
Membangun globalisasi dan spesialisasi, para SCM istilah 2.0 telah diciptakan untuk menggambarkan baik perubahan dalam rantai suplai itu sendiri serta evolusi, metode proses dan alat-alat yang mengelolanya dalam “era” baru.
Web 2.0 didefinisikan sebagai kecenderungan dalam penggunaan World Wide Web yang dimaksudkan untuk meningkatkan kreativitas, berbagi informasi, dan kolaborasi antara pengguna. Pada intinya, atribut umum bahwa Web 2.0 membawa adalah untuk membantu menavigasi sejumlah besar informasi yang tersedia di web untuk menemukan apa yang dicari. Ini adalah gagasan dari sebuah jalur dapat digunakan. SCM 2.0 berikut ini gagasan ke dalam operasi rantai suplai. Ini adalah jalan menuju hasil SCM, kombinasi dari, metodologi proses, alat dan pilihan pengiriman untuk memandu perusahaan untuk hasil mereka dengan cepat sebagai kompleksitas dan kecepatan meningkatkan rantai pasokan karena efek dari persaingan global, fluktuasi harga yang cepat, bergelombang harga minyak, siklus hidup produk pendek, spesialisasi diperluas, near-/far- dan off-menopang, dan kelangkaan bakat.

Apa itu Upstream dan Downstream Supply Chain??

Downstream supply chain adalah semua aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir contohnya saja downstream supply chain ini lebih memperhatikan pada distribusi, pergudangan, transportasi dan after sale service.
Sedangkan, Upstream adalah aktivitas dari suatu perusahaan manufacturing dengan para penyalurnya (yang mana dapat manufacturers, assemblers, atau kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada para penyalur mereka (para penyalur second-tier) . Contohnya saja upstream ini lebih memperhatikan kepada pengadaan.
Atau dalam kata lain Upstream adalah di saat kegiatan pemasokan berlangsung antara perusahaan manufaktur ataupun supplier dengan perusahaan kita dan downstream adalah kegiatan pemasokan yang terjadi antara perusahaan kita dengan konsumen.


Apa itu Pull dan Push Supply Chain!
Pull supply chain adalah para pelanggan meminta suatu produk dan menarik produk itu melalui jalur perngiriman. Contoh dari perusahaan mobil Ford Australia yang hanya memproduksi bila ada pesanan dari pelanggan.
Sedangkan Push supply chain adalah pelanggan tidak meminta suatu produk untuk dikembangkan, produk di push ke pelanggan melalui promosi. Contohnya adalah parfum, para pelanggan tidak mungkin meminta parfum yang belum pernah mereka cium sebelumnya.

Bagaimana peran teknologi informasi terhadap SCM??

Berikut ini adalah contoh yang memperkuat penjelasan akan pperan TI dalam SCM

Chopra & Meindl (2001) menyatakan bahwa dalam SCM terdapat empat penggerak (driver), yaitu persediaan, transportasi, fasilitas, dan informasi. Dari keempat penggerak tersebut, informasi merupakan penggerak utama. Informasi sangat mempengaruhi ketiga penggerak lainnya.

Peranan informasi dalam SCM dipengaruhi oleh teknologi informasi yang digunakan. Teknologi informasi ini mempunyai peranan penting dalam dalam mendukung kinerja SCM.

Peranan Teknologi Informasi pada masing-masing proses bisnis
dalam SCM tersebut adalah sebagai berikut:

§    Peranan dalam Manajemen Hubungan Pelanggan
Dalam SCM, proses manajemen hubungan pelanggan (customer relationship management/ CRM) bertujuan untuk menyediakan struktur dalam mengembangkan dan memelihara hubungan dengan pelanggan. Berbagai teknologi informasi digunakan dalam implementasi CRM.
Sebagai contoh, aplikasi Sales Force Automation (SFA) dapat digunakan untuk mengotomatiskan hubungan antara para penjual dan pembeli melalui penyediaan informasi produk dan harga (Copra & Meindl, 2001). Sistem tersebut juga memungkinkan informasi pelanggan dan produk secara rinci dan real time.
§    Peranan dalam Manajemen Pelayanan Pelanggan
Untuk dapat menjalankan manajemen pelayanan pelanggan (customer service management/CSM) secara baik, teknologi informasi yang digunakan harus handal. Teknologi informasi ini harus dapat menghimpun secara real time mengenai berbagai informasi yang diperlukan pelanggan, seperti ketersediaan produk, waktu pengiriman, dan status pesanan.
Pelayanan pelanggan menyediakan sumber tunggal untuk berbagai informasi yang dibutuhkan pelanggan. Dengan teknologi informasi, perusahaan dapat memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan tingkat kepastian yang tinggi.
§    Peranan dalam Manajemen Permintaan
Manajemen permintaan (demand management) mencakup proses-proses yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pelanggan dengan kemampuan pasokan perusahaan. Sistem manajemen permintaan yang baik menggunakan data point-of-sale dari pelanggan utama untuk mengurangi ketidakpastian (uncertainty) dan menyediakan aliran yang efisien sepanjang rantai pasok.
Dalam SCM, manajemen permintaan menjadi permasalahan penting karena mencakup pengelolaan permintaan pada suatu rangkaian perusahaan dalam rantai pasok itu. Teknologi informasi dibutuhkan untuk menjamin keakuratan data dan mengurangi delay time aliran informasi. Kedua hal tersebut merupakan faktor-faktor penting untuk mengurangi fenomena bullwhip effect dalam rantai pasok.
§    Peranan dalam Pemenuhan Pesanan
Pemenuhan pesanan yang efektif membutuhkan integrasi dari proses manufaktur, logistik dan rencana pemasaran. Kunci SCM yang efektif  adalah memenuhi kebutuhan pelanggan sesuai dengan waktu. Sebagai bagian dalam sistem ERP (Enterprise Resources Planning), modul Order Fulfillment digunakan untuk memantau siklus pemenuhan pesanan dan merupakan catatan kemajuan perusahaan dalam memuaskan permintaan.
ERP merupakan suatu sistem teknologi informasi operasional yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dari semua fungsi dalam perusahaan. Sistem ERP ini memantau material, pesanan, jadwal, persediaan barang jadi, dan informasi lainnya yang ada di perusahaan (Chopra & Meindl, 2001).Penggunaan teknologi informasi ini akan dapat meningkatkan kepastian dalam pemenuhan pesanan.
§    Peranan dalam Manajemen Aliran Manufaktur
Proses-proses manufaktur harus bersifat fleksibel dalam menanggapi perubahan pasar. Perubahan dalam proses aliran manufaktur diperlukan untuk memperpendek waktu siklus. Hal ini berarti akan meningkatkan responsivitas terhadap pelanggan. Dalam ERP terdapat modul manufacturing yang mencatat aliran produk sepanjang proses manufaktur dan mengkoordinasikan apa yang, dilakukan untuk suatu bagian pada suatu waktu. Aliran produk tersebut harus dipantau melalui penggunaan teknologi informasi. Pemantauan ini dilakukan untuk memberikan kepastian dalam kelancaran aliran manufaktur.
§    Peranan dalam Manajemen Hubungan Pemasok
Manajemen hubungan pemasok merupakan proses yang menentukan bagaimana suatu perusahaan berinteraksi dengan para pemasoknya. Fungsi pembelian dikembangkan melalui mekanisme komunikasi yang cepat seperti electronic data interchange(EDI) dan jaringan internet.
Interaksi dengan pemasok dapat mempengaruhi kelancaran proses produksi yang dilakukan perusahaan manufaktur. Bagi pengecer, interaksi dengan pemasok sangat diperlukan untuk menjamin ketersediaan produk yang akan dijual. Untuk menjamin interaksi ini, diperlukan informasi yang memadai mengenai pemasok. Informasi ini mencakup mengenai product line, lead time produk, serta sales terms and conditions. Selanjutnya, pemantauan kinerja pemasok perlu dilakukan, seperti yang dikembangkan pada modul Supplier Management dalam ERP. Dalam hal ini, teknologi informasi diperlukan untuk dapat menjamin kelancaran hubungan dengan pemasok.
§    Peranan dalam Pengembangan danKomersialisasi Produk
SCM mencakup integrasi pelanggan dan pemasok ke dalam proses pengembangan produk untuk memperpendek time to market. Dengan memandang SCM sebagai integrasi proses bisnis dari pemasok awal hingga pengguna akhir, setiap mata rantai harus terintegrasikan pula dalam proses pengembangan dan komersialisasi produk.
Teknologi informasi ini digunakan oleh rantai pasok untuk mengumpulkan informasi dari mata rantai terkait dan mengalirkannya ke mata rantai terkait lainnya. Dengan demikian time to market produk yang dikembangkan dapat diperpendek.
§    Peranan dalam Manajemen Pengembalian (Return Management)
Proses manajemen pengembalian mencakup pengaturan aliran reverse product secara efisien dan mengidentifikasi peluang-peluang untuk mengurangi pengembalian yang tidak dikehendaki. Dalam proses ini juga tercakup pengontrolan reusable assets, seperti kontainer.


Manajemen pengembalian merupakan proses di dalam SCM dengan kegiatan-kegiatan seperti pengembalian (return),reverse logistic, gatekeeping, dan avoidance (Rogers et. al, 2002). Lambert (1998) menyatakan bahwa dalam implementasi SCM, harus dilakukan mekanisme koordinasi yang baik di antara fungsi-fungsi yang bervariasi tersebut agar proses-proses di dalam SCM bisa dijalankan secara efektif dan efisien.
Informasi sangat penting dalam proses pengambilan keputusan pada rantai pasok. Dengan ruang lingkup rantai pasok yang luas dan mencakup suatu rangkaian perusahaan, kebutuhan informasi menjadi semakin penting. Salah satu kendala yang dihadapi dalam penerapan menerapkan teknologi informasi untuk SCM adalah penyiapan infrastruktur.
Simchi-Levi (2002) menyebutkan bahwa infrastruktur teknologi informasi mencakup empat komponen, yaitu: interface devices, komunikasi, database, dan arsitektur sistem. Infrastruktur ini harus disiapkan, baik untuk internal perusahaan maupun eksternal antar perusahaan dalam rantai pasok.
Informasi yang akurat sangat penting untuk sebagai dasar analisis untuk pengambilan keputusan. Masalah bentuk informasi tersebut terkait dengan standardisasi informasi. Informasi dapat dalam berbagai bentuk atau format yang berbeda sesuai dengan teknologi informasi yang digunakan perusahaan. Perbedaan bentuk atau format ini dapat menjadi kendala untuk mengintegrasikan informasi. Jika informasi ini tidak dapat terintegrasi maka penerapan SCM sangat sulit dilakukan.

Hubungan antara Porter’s Value Chain dengan Penerapan TI pada SCM!

Porter’s Value Chain
Ø  aktivitas primer : logistik kedalam, operasi, logistik keluar, pemasaran dan penjualan, pelayanan
Ø  aktivitas pendukung : pembelian, pengembangan teknologi, manajemen SDM, infrastruktur perusahaan

Hubungan antara Porter’s Value Chain dengan penerapan TI pada SCM adalah Saling mendukung antara keduanya, apalagi TI d jaman sekarang ini sudah berkembang pesat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat hubungan antara Porter’s value chain ini dengan perkembangan TI.

Referensi:
Manajemen stratejik halaman 9
www.pdii.lipi.go.id/wp-content/.../budinugroho-scm-di-pdiilipi.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar